Langsung ke konten utama

Postingan

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...
Postingan terbaru

W. R. Supratman: Guru Bangsa, Guru Cinta

Wage Rudolf Supratman termasuk di antara para pahlawan nasional yang semasa hidupnya berjuang menghadapi ancaman penjajah dengan tidak menggunakan senjata ataupun aksi massa. Wage adalah seorang seniman. Ia berjuang melalui karya-karya seni indah nan menggelora. Tak jarang orang menyebutnya sebagai seniman patriotik. Syair-syair ciptaannya mengalun damai menggerakkan jutaan jiwa untuk semakin tak gentar melawan penindasan dan menumpas segala bentuk kekejian yang mendera bangsa Indonesia kala itu. Sejarah juga telah mencatat dengan teramat rapi, bahwa lagu-lagu perjuangan yang dipersembahkan Wage telah berhasil meruntuhkan kekuasaan kolonial Belanda yang saat itu mencengkeram kokoh bumi pertiwi. Wage –bahkan di akhir hayatnya sempat menuturkan secarik kalimat yang melegenda,     “ Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku, Saya yakin Indonesia pasti merdeka ”. Dalam buku biografi bertajuk W.R. Supratman yang ditulis oleh Lilis Nihwan, disebutkan bahwa sosok...

Takjil

Selepas petang menguraikan pijarnya, aku beranjak melintasi jalan yang didesak oleh keramaian, tanpa celah untuk sepi, atau bahkan waktu untuk menepi.  Di sepanjang jalan, ku dapati tenda-tenda saling bersanding, menghidangkan dan menawarkan, dihampiri dan ditinggalkan Takjil-takjil itu, mereka tak punya waktu untuk jiwa-jiwa yang hanya singgah Jiwa-jiwa yang saling memburu tanpa jeda, sebelum langit mengarak senja, pulang ke tempat asalnya Sorot petang itu terus mengepung tubuhku, yang terpasung meratapi jalan dan kehebohannya, tenda-tenda itu pun selaksa labirin yang berderu menerpaku menuju ketidakpastian Hingga, di sela perjalanan, kakiku tertahan pada sebuah tenda yang tak biasa tenda dimana kita pernah saling bertukar tawa, bersanding, dan memiliki Saat dimana aku bisa dengan bebas menyelam di sepasang matamu Sebelum akhirnya sepasang matamu merupa kenang yang penuh sayat, redam dan menikam Di hadapanku memang sekumpulan takjil yang bertebaran dengan sporadis,  namun car...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...

Surat Terakhir Karlan

Dengan menyebut nama Tuhan, yang begitu bijak menorehkan telaga madu, pada pipi manis merah jambu, yang menggantung padu di wajahmu Ketahuilah, pada kerumunan bintang yang menggantung di hamparan hitam langit malam ini, ku titipkan sebuah pesan melalui surat yang ku tulis dengan air mata Ketahuilah, semesta nampak begitu murung malam ini Bahkan, dari atas dipan tempat kita dahulu meramu tawa Aku, aku sempat melontarkan tanya pada sekumpulan bintang di atas sana "Beritahu aku cara paling sederhana, merayakan cinta pada wanita yang tak lagi cinta" Melalui surat ini, untuk terakhir kali Ku nyatakan, aku patah hati. Ya, tepat seusai lontar undangan kawinmu ku terima, rintihan angin tak ubahnya belati yang menancap sadis di sekujur hati Aku, terpuruk di atas dipan tempat kita dahulu meramu tawa Kemudian ku jamah kain putih yang sempat kau lilitkan di tanganku Saat itu kau bentangkan senyum di hadapanku, seolah senyum itu berbisik "semua akan berjalan baik" Namun, semuany...

Negeri Dalam Mimpi

Pada suatu mimpi, Tuhan menerbangkan tubuhku menuju sebuah negeri yang beratapkan duka dan nestapa Dimana angin jadi tersangka, polisi bebas menyiksa, direktur punya kuasa, Bupati sibuk sengketa Negeri yang suburnya bukan kepalang. Pupuknya darah petani, rahang mahasiswa, dan puisi-puisi yang hangus diberedeli Di negeri mimpi itu, angin yang membunuh 135 nyawa menimangku menuju sudut-sudut di negeri itu Ku dapati koruptor diarak bertampuk mahkota. Menuju parlemen, istana, hingga proyek-proyek ibukota Ku ratapi, gedung-gedung itu punya cerita. Cerita, dan cerita Mataku terperanjat lalu ku menjerit Oh Tuhan, gedung kejaksaan hangus dilahap api. CCTV mati, kasus-kasus besar ikutan mati Oh Tuhan, lihatlah Gedung Anti Korupsi kena korupsi, 90 pegawainya pungli, ketumnya ngopi sama menteri Oh Tuhan, apalah ini? Bagaimana bisa, oh Tuhan? Republik punya perdana menteri. Urusan big data sampai pandemi, orangnya sama tak ganti-ganti Tuhan, cukup Tuhan. Apa yang kau perlihatkan padaku, kini? Gedu...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...